PENETAPAN DAN STUKTUR HARGA JUAL RITEL

PENETAPAN DAN STUKTUR HARGA JUAL RITEL

Harga jual dalam bisnis minimarket merupakan hal yang krusial. Berdasarkan pengalaman penulis menangani set up dan upgrading minimarket di beberapa daerah,ditemukan realitas kekeliruan dalam metode penetapan harga jual karena kurangnya pemahaman stuktur harga. Oleh karena itu, dalam bagian ini penulis menekankan pentingnya pemahaman  stuktur harga dan konsep-konsep penetapan harga jual barang dagangan.

Proses Penetapan Harga Jual Ritel

Berman & Evans (2003) menyebutkan bahwa penetapan harga jual ritel (retail pricing) merupakan bagian dari proses strategi harga ritel. Prosesnya dimulai dari objektif bisnis ritel yang kemudian diturunkan dalam kebijakan harga, dan seterusnya hingga bagaimana proses penyesuain harga dilakukan. (lihat gambar 7.1)

 

PENETAPAN DAN STUKTUR HARGA JUAL RITEL

Harga jual dalam bisnis minimarket merupakan hal yang krusial. Berdasarkan pengalaman penulis menangani set up dan upgrading minimarket di beberapa daerah,ditemukan realitas kekeliruan dalam metode penetapan harga jual karena kurangnya pemahaman stuktur harga. Oleh karena itu, dalam bagian ini penulis menekankan pentingnya pemahaman  stuktur harga dan konsep-konsep penetapan harga jual barang dagangan.

Proses Penetapan Harga Jual Ritel

Berman & Evans (2003) menyebutkan bahwa penetapan harga jual ritel (retail pricing) merupakan bagian dari proses strategi harga ritel. Prosesnya dimulai dari objektif bisnis ritel yang kemudian diturunkan dalam kebijakan harga, dan seterusnya hingga bagaimana proses penyesuain harga dilakukan. (lihat gambar 7.1)

Penetapan harga ritel

Dalam gambar 7.1  terlihat bagaimana loop proses strategi harga ritel. Tujuan ritel adalah penjualan, margin keuntungan, dan pengembalian investasi. Tujuan itu dikewantahkan dalam sasaran, pemilihan citra toko, komposisi bauran ritel,dan penentuan kebijakaan harga.

Langkah selanjutnya adalah menetapkan strategi harga yang mempertimbangkan tingkat permintaan, biaya-biaya, persaingan, dan jaringan. Sesuai dengan kondisi dan karakteristik pasar, strategi harga diterapkan dengan berbagai pilihan; apakah odd-even pricing,flexible-flixed, dan sebagainya.

Proses selanjutnya adalah evaluasi terhadap hasil dari penerapan suatu strategi harga dalam kurun waktu tertentu. Bentuknya adalah penyesuaian harga, yang bisa berupa diskon, penjualan barang banded dan lain-lain. Lebih lanjut,  sebagai feedback, prosesnya kembali dari objek peritel.

Berman & Evans dalam Sujana (2010) menyebutkan bahwa dalam praktiknya, penetapan harga ritel di pengaruhi oleh empat pihak berikut.

  1. Pesaing;
  • Lingkungan yang bersaing menndorong upaya perbandingan untuk mendapat posisi citra harga yang lebih baik.
  • Setiap perubahan harga, harga competitor akan selau menjadi benchamark
  1. Konsumen;
  • Umumnya konsumen menunjukan elastitas terhadap harga, dimana kenaikan harga sampai batas tertentu akan berpengaruh pada volume penjualan.
  • Namun demikian, berbeda segmen pasar berbeda pula concern-nya terhadap harga. Semakin tinggi kelas social dan kelas pendapatan, penghargaan terhadap kualitas lebih tinggi jika dibandikangkan dengan harga. Ada rupa ada harga, inverta Sonia!
  1. Pemerintahan, dalam perananya sebagai pengendali perekonomian dapat melakukan pengaturan tentang penetapan harga dan persaingan usaha;
  • Penetapan harga, dalam upaya pengendalian harga strategis, pemerintah melakukan penetapan harga; contoh harga BBM, harga pupuk (fertilizer), harga CPO dan lain-lain.
  • Diskriminasi harga; umumnya diterapkan untuk harga sumber daya dan utilitas,misalnya tarif pulsa telepon, konsumsi daya tarik listrik dan air minum (PAM).
  • Tingkat harga terendah/tertinggi,selain penetapan harga secara fixed, terhadap barang-barang strategis dapat diberlakukan ketentuan HET (harga eceran tertinggi) yang seyogianya dipatuhi oleh paritel. Biasanya diberlakukan untuk menjaga kestabilan harga dan mengalaminasi pengaruh jarak kirim terhadap tingkat harga jual. Misalnya HET semen Portland pada suatu kota tertentu di luar Jawa.
  1. Pemasok (supplier);
  • Untuk menjaga items positioning dipasar, supplier biasa mencantumkan harga jual yang disarankan.
  • Ketika harga selling-in diturunkan (ada diskon), supplier juga biasanya menghendaki peningkatan volume order.
  • Ketika supplier menyepakati kondisi trading term dengan perital, itu tidak terlepas dari cos ratio yang sudah diperhitungkan.